Site Overlay

Klien 1 : Awalnya Trading Dan Ikut Grup Berbayar

Rabu tanggal 21 April 2021 ada pesan masuk melalui Messenger yang ingin berdiskusi dan meminta saran-saran terkait sahamnya.

Kami pun berdiskusi mengenai portofolio sahamnya yang ternyata memiliki 21 saham yang terdiri dari berbagai macam sektor. Selain itu jenis sahamnya juga ada bluechip dan saham gorengan.

Beliau sebelumnya memang ikut grup berbayar dengan konsep swing trade namun kemudian tidak cukup waktu untuk memantau portofolionya.

Setelah diskusi akhirnya tanggal 22 April 2021 beliau meminta Rencang Saham untuk memperbaiki portofolionya.

Sekilas informasi

Modal total : Rp186,432,600

Floating Loss : Rp20,245,500 (9.12%)

Jumlah saham : 21

Rencang Saham langsung melakukan berbagai analisa mendalam terkait portofolio yang ada.

Target dalam 1 tahun ini minimal bisa profit.

Untuk update cerita bisa disimak disini

Langkah 1 :

Kami menyusun analisa terkait harga wajar masing-masing saham dan menentukan jenis dari masing-masing saham apakah core stock, value stock, growth stock, dividen stock atau gorengan stock.

Analisa menggunakan EPS dan Book value

Langkah 2 :

Kami menjual saham TINS karena kami melihat saham ini secara fundamental saat ini tidak terlalu menarik dibuktikan dengan EPS yang minus.

Langkah 3 :

Awalnya kami menantikan hasil RUPS PGAS untuk melakukan aksi average deown karena dalam salah satu mata acara ada keterangan penggunaan laba.

Tapi ternyata PGAS tidak membagikan dividen dan kita tidak jadi average down dari PGAS.

Karena PGAS tidak ada dividen maka target kita rubah ke average down TLKM dan average down WSBP.

Kenapa TLKM? Karena bagaimanapun TLKM adalah bluechip dan penguasa pasar di bidangnya dan sebentar lagi akan melakukan RUPS yang kemungkinan besar membagikan dividen (Kami membeli TLKM tanggal 03/05/2021).

Langkah lainnya yaitu kita melakukan average down saham WSBP (04/05/2021).

Alasannya adalah WSBP salah satu yang menurut kami gorengan dan harus segera dibuang. Kenapa malah di average down? Karena

  1. Kerugiannya sudah cukup besar dan kebetulan WSBP memiliki angka psikologis yaitu Rp 200
  2. Walopun ini gorengan tetapi gorengan yang masih lebih baik dibanding saham gorengan di portofolio klien karena WSBP ini bagaimanapun milik pemerintah.

Dengan melakukan average down kami berharap floating lossnya semakin sedikit.

Langkah 4 :

Setelah melakukan average down TLKM dan WSBP, kami melakukan average down untuk saham PNLF. Sekali lagi banyak pertimbangan yang membuat kami memutuskan untuk average down PNLF ini.

  1. Saham PNLF ini memiliki fundamental yang lumayan bagus dengan kinerja yang lumayan stabil
  2. Harga saat ini termasuk sangat jauh di bawah harga wajarnya dengan EPS 57 dan Book Value 756

Langkah 5 :

Tanggal 21 Mei 2021 akhirnya kami mulai membeli saham yang memiliki fundamental bagus, harga undervalue dan membagikan dividen.

Saham tersebut adalah TSPC.

Langkah 6 :

Setelah melalui berbagai pertimbangan akhirnya kami melepas saham PNLF dan BMTR serta membeli saham SPTO di tanggal 31 Mei 2021.

Kami melepas PNLF karena memang sudah cuan walopun sangat sedikit, tetapi alasan sebenarnya adalah karena track record selama ini yang memang tidak membagikan dividen.

Kami sempat ragu saat mau menjual PNLF ini karena ada isu tentang pembagian dividen. Tetapi daripada kami tidak fokus dengan porto maka kami menjualnya di harga 196 dari pembelian 191.

Selain PNLF kami juga menjual BMTR. Alasan menjual BMTR yaitu :

1. Mau rebalancing porto dan BMTR ini yang nilai kerugiannya relatif kecil

2. Track record grup HT yang membuat kami sedikit tidak nyaman untuk berinvestasi (Ini subjektif dari kami.

3. Tidak membagikan dividen di tahun 2019 dan 2020.

Setelah menjual 2 saham itu, kami membeli SPTO. Alasannya karena memang fundamentalnya bagus dan akan membagikan dividen dalam waktu dekat.

Langkah 7 :

Sempat bingung ingin melakukan average down saham gorengan agar bisa keluar atau mau mencoba menambah saham berfundamental bagus.

Akhirnya kami memutuskan untuk menambah saham berfundamental bagus.

Tanggal 02 Juni 2021 kami membeli saham SHIP yang menurut kami ada potensi untuk menjadi saham value investing.

Langkah 8 :

Tanggal 03 Juni 2021 IHSG mengalami bullish tipis dan kondisi ini kami manfaatkan untuk melakukan 2 kegiatan yaitu menjual saham BUMI dan membeli ke saham HEXA.

Saham HEXA dipilih karena cocok dengan konsep value investing untuk EPS dan Book value sekarang.

Saham BUMI kami jual karena dulu kami sempat membeli di harga bawah dan modal yang ada kami gunakan untuk tambahan amunisi.

Langkah 9 :

HOKI salah satu saham yang sudah masuk dalam portofolio klien sebelum menjadi bagian dari Rencang Saham.

Namun harga pembeliannya lumayan mahal yaitu di harga 252.

Sempat beberapa kali ingin melakukan average down tetapi ada plan lain yang harus dikerjakan akhirnya baru tanggal 04 Juni 2021 ini melakukan average down HOKI.

Selain melakukan average down saham HOKI, kami juga melakukan average down saham SPTO dengan alasan prospek bisnis dari SPTO masih sangat bagus, kinerja fundamentalnya bagus dan kebetulan akan membagikan dividen.

Langkah 10 :

Dulu BRIS sempat mencetak multibagger. Bagi yang membeli di harga 200an pasti sudah merasakannya.

Namun karena masih pemula kami membeli di harga atas sehingga sampai tanggal 10 Juni 2021 kami masih nyangkut alias floating loss.

BRIS itu secara fundamental menurut kami sudah tidak terlalu bagus. Namun mungkin secara prospek masih cerah karena gabungan 3 bank syariah terbesar.

Hal inilah yang membuat kami akhirnya memutuskan untuk average down di tanggal 10 Juni 2020.

Langkah 11 :

Seperti biasanya sebelum kami memutuskan membeli saham baru, menjual saham lama atau average saham lama kami akan melihat seluruh portofolio yang ada.

Selain itu kami masih fokus untuk terus menambah saham-saham fundamenta bagus yang undervalue.

Pilihan jatuh kepada saham INDF.

Sebenarnya kami masih memiliki saham ICBP namun rupanya bobot yang sudah besar, floating loss yang besar serta modal yang minim membuat kami menyingkirkan ICBP dulu atau di hold dulu dan tidak diapa-apakan.

Tanggal 11 Juni 2021 kami membeli saham INDF.

Selain membeli INDF kami juga menjual saham ADRO. Alasannya simpel saja

  1. ADRO kebetulan terbang
  2. Sejak kami beli pergerakan saham ADRO relatif stagnan

Di akhir sesi kami juga average up TSPC. Tujuan average up TSPC ini karena sebentar lagi TSPC akan melakukan RUPS dan kemungkinan besar akan membagikan dividen.

Selain itu porsi TSPC sebagai saham fundamental bagus dan undervalue masih sedikit sehingga membuat kami memutuskan untuk menambah bobot di portofolio.

Di menit-menit akhir bursa, kami akhirnya juga menjual saham TLKM dikarenakan

  • keuntungan yang didapat atau floating profit yang ada sudah lumayan
  • kami butuh dana untuk average down, nambah lot atau membeli saham baru
  • kami juga sudah mendapat dividen dari TLKM karena saat kami menjual sudah exdate.

Langkah 12 :

Pembersihan saham gorengan kami lanjutkan di tanggal 14 Juni 2021.

Saham yang akhirnya kami jual adalah saham DKFT yang tiba-tiba saja harganya naik dan membuat lossnya kita relatif sedikit.

Langkah 13 :

Tanggal 15 Juni 20121 tiba-tiba banyak saham yang merah terutama saham-saham yang berada di portofolio kami seperti PTBA dan UNVR.

Karena keduanya sudah floating loss lumayan besar maka kami melakukan average down kedua saham di atas.

Langkah 14 :

Di tengah ketidakpastian IHSG yang terus memerah kami memberanikan diri untuk membeli saham EPMT di tanggal 17 Juni 2021.

Ada beberapa alasan saat kami membeli saham EPMT :

  1. Saham EPMT memiliki fundamental bagus, undervalue dan membagikan dividen
  2. Menyiapkan portofolio saham sesuai poin no 1
Copyright © 2021 Rencang Saham. All Rights Reserved. | Chique by Catch Themes