Site Overlay

Klien 2 : Bingung Mau Investasi Seperti Apa

27 Mei 2021 adalah awal dimana akhirnya klien no 1 ini memutuskan untuk berinvestasi di saham growth stock dan value stock.

Klien 2 ini memang sebenarnya sudah mengetahui tentang investasi saham namun masih labil dalam menentukan langkah investasi yang tepat.

Akibatnya adalah ada 28 saham yang berada dalam portofolionya. Tidak ada yang salah dengan pemilihan sahamnya, namun karena “gemuknya” membuat imbas dari kenaikan saham tidak terlihat.

Klien 2 ini berencana untuk merampingkan saham yang ada sembari menambah saham-saham growth stock untuk hold as long as possible.

Sekilas informasi

Modal total : Rp51.040.858

Floating Profit : Rp 636.608 (1.30%)

Jumlah saham : 28

Rencang Saham langsung melakukan berbagai analisa mendalam terkait portofolio yang ada.

Target dalam 1 tahun ini minimal bisa profit.

Untuk update cerita bisa disimak disini

Langkah 1 :

Tanggal 27 Mei 2021 membeli saham ARNA. ARNA merupakan salah satu produsen keramik terbesar di Indonesia.

Langkah 2 :

Masih dalam masa kebingungan dalam memilih saham yang akan dikurangi, 02 Juni 2021 kami menambah kepemilikan di saham SMSM karena kebetulan saham ini juga sudah mengalami floating loss di batas bawah 10%.

Sembari mengurangi floating loss dan menambah muatan di saham yang dimungkinkan untuk disimpan sebagai saham growth core stock.

Langkah 3 :

Setelah melakukan average down SMSM, kami melakukan average down saham SPTO karena ada 2 hal yang menjadi pertimbangan :

1. SPTO cocok menjadi saham growth investing

2. SPTO sudah mengalami floating loss. Memang floating lossnya belum di atas 10%, namun ada harga psikologis yang bisa menjadi acuan untuk average down.

Langkah 4 :

Sembari menunggu mana saham yang bisa dilepas untuk merampingkan portofolio, kami terus mencari saham-saham baru yang layak investasi karena masih undervalue.

Tanggal 08 Juni 2021 kami membeli saham ISSP dengan berbagai pertimbangan.

Langkah 5 :

Dulu kami masuk ke ACES pertimbangannya karena memang secara fundamental bagus, juga bisa dibuat tektok alias bisa keluar masuk.

Tapi ternyata setelah kami beli, bukannya naik malah relatif sideways dan cenderung turun. Alhasil tanggal 09 Juni 2021 kami terpaksa melakukan average down yang ketiga kalinya.

Ini menjadi pembelajaran buat kami bahwa yang terlihat mudah belum tentu bisa gampang.

Walaupun ACES saham yang sangat bagus tetapi sepertinya akan kami jual di suatu saat karena bukan tipikal saham yang kami cari.

Langkah 6 :

Rebalancing terus dilakukan di awal Juni 2021. Portofolio yang terlalu besar membuat kami tidak fokus untuk memaintenance saham serta membuat keuntungan tidak maksimal.

Kami menjual saham yang relatif sangat aman yaitu SMSM dengan alasan kami akna mencari saham yang undervalue sebagai portofolio.

Kami menjual SMSM di tanggal 10 Juni 2021 dengan cuanĀ  walopun sedikit.

Langkah 7 :

Tanggal 11 Juni 2021 merupakan salah satu hari tersibuk yang kami lakukan.

Kebetulan kami mendapat modal dari penjualan saham SMSM sehingga membuat kami kembali akan melakukan rebalancing porto.

Awalnya kami hanya akan membeli saham yang memang sudah ada dalam porto yaitu salah satunya adalah saham SHIP yang terbeli dengan harga yang sama dengan harga sebelumnya.

Namun tidak dinyana ternyata saham ADRO lumayan terbang dan membuat kami langsung menjual ADRO. Kenapa menjual ADRO?

  1. Rebalancing porto karena kami sudah memiliki saham lain di batubara
  2. ADRO kami lihat sahamnya relatif stagnan dan saham ADRO ini salah satu saham yang kami beli saat kami belum memiliki ilmu value investing sehingga dulu pembelian kami sebenarnya berada di harga pucuk.

Mendapat tambahan dari saham ADRO, kami kembali melakukan average down saham ACES .

Tanggal 09 Juni 2021 kami sudah membeli ACES dan tanggal 11 Juni 2021 kami kembali membeli ACES dengan alasan

  1. Average down
  2. Persiapan mendapatkan dividen tahun 2021

Langkah 8 :

Tanggal 18 Juni 2021 kami menjual saham INDS denga keuntungan sangat kecil. Kami menjual dengan alasan :

  1. Rebalancing porto yang sangat gemuk
  2. Akan menggunakan dana pembelian untuk diarahkan ke saham lain
  3. INDS sangat tidak likuid
Copyright © 2021 Rencang Saham. All Rights Reserved. | Chique by Catch Themes